Bulan sabit nyalang, mengambang dalam pusaran malam yang
padam dan berjelaga. Tergambar dengan jelas langit yang terbentang, sepi dan
menyendiri dari gemintang. Kupandangi lekat bulan seperti mata pisau yang membelah nestapa
dari keremangan malam. Suara petir di kejauhan yang bergemuruh menggantikan
suara jangkrik ataupun suara-suara nokturnal lain. Semua unsur malam tertelan
ketiadaan begitu saja malam ini, taburan gemintang ataupun suara malam yang
akrab pergi. Aroma lembab tercium
sebelum akhirnya gerimis terjatuh, lembut melarikan kekecewaanya di sini, di
permukaan wajah bumi. Embusan-embusan
mesra angin malam berhujan, menyapaku dan membelai lara yang mengendap ditubuhnya. Lama aku terpaku pada
hujan yang semakin liar, dan kucoba untuk kembali mengambil kuas, melukis aksara hiragana. Mereka seperti menari-menari dengan balutan tinta
kehitaman yang mencuat kesana kemari.
Udara menjadi setajam es, menyengat.
Sejenak
pikiranku teralihkan kembali oleh gerimis dan hujan yang bergantian datang dan
menggelayut di garis langit. Di balik tirai gerimis aku melihatnya seperti
sebuah fatamorgana. Sebuah fatamorgana yang lahir dari ilusi malam, malam yang
menipuku. Namun kusibak jua sejuta tirai tipis gerimis, mencoba menyerap
sosok yang seperti sebuah ilusi. Di antara ketidak pastian kulihat ia,
bidadari.
Seorang wanita
bergerak sesuai irama hujan yang lirih. Jemarinya meraih udara kosong, pucat bertolak belakang dengan malam pualam.
Kimononya merah, menyala-nyala menjalari
dasar perutku dengan api yang membakar. Siapakah dia ? Imajinasiku semakin
nyalang , membayangkan ia dengan bibirnya yang merengkuh sunyi bernyanyi nina
bobo. Nina bobo yang begitu menyesakkan pendengaranku.
Helai rambut
yang hitam pekat, menjadi cermin malam temaram, tergerai dan menyambangi dinginnya
desau angin. Wajahnya muncul dari dimensi fana,
memandangku sayu, meluruhkan nelangsa. Gerakan tubuhnya yang beradu menjadi satu
kesatuan yang membuatku terpikat. Wajah
itu lembut bercahaya remang seperti
rembulan . Mengelabui ku dengan setiap aura menawan terpancar dengan gemulai melalui bahasa tubuhnya. Menguak hasratku yang kian
lama terpendam bergejolak kehausan
dan bergemerisik kecil menyentuh
jiwaku. Namun bayangan pekat menaungi sisi terdalam wajahnya , seolah bidadari
itu menyimpan kesedihan. Yang lama
terikat dalam liar gerakan matanya yang redup namun penuh tabir mimpi.
Kereguk dengan
kebimbangan seluruh hasrat yang menari
di pelupuk mataku . Menelisik tumpukan bulu angsa putih murni di musim gugur,
pada kulitnya yang begitu pucat dan berpendar. Pipinya lembut merona , namun terasa membara
di dalam pandangku yang nanar . Pancaran rasa penasaran namun nelangsa bisa
kurasa , saat mata elangnya mengawasiku , juga saat palet didalam keindahannya
yang menusuk berpendar pendar ,
namun menjulang dengan gelisah di sekelilingku .
Gerak bibirnya kemayu dalam balutan gincu menggoda , menyimpan suatu rahasia
padaku . Kudengar suara genta angin yang berbisik seolah bibirnya berucap indah, tapi aku salah. Aku
mencoba mengejar bayangan semu dihadapku , namun takdir ternyata membaca
penolakannya. Bidadari itu pun bergeming terhadapku . Sentuhan jemari gemulainya
membuatku ingin melebur pada sang
waktu. Ia bergerak menjauh , ujung
kimononya yang cantik ikut hilang
bersamaan dengan hilangnya bayangan sang bidadari diatas
relung relung ku . Lama bayangannya di sana di dalam hatiku yang tersaruk.
Sosoknya terus berkelebat, timbul dan tenggelam tanpa kepastian.
gambar: www.google.com
gambar: www.google.com

No comments:
Post a Comment