Monday, March 19, 2012

Angsa Musim Gugur #deskripsi1


Bulan sabit  nyalang, mengambang dalam pusaran malam yang padam dan berjelaga. Tergambar dengan jelas langit yang terbentang, sepi dan menyendiri dari gemintang. Kupandangi lekat  bulan seperti mata pisau yang membelah nestapa dari keremangan malam. Suara petir di kejauhan yang bergemuruh menggantikan suara jangkrik ataupun suara-suara nokturnal lain. Semua unsur malam tertelan ketiadaan begitu saja malam ini, taburan gemintang ataupun suara malam yang akrab pergi.  Aroma lembab tercium sebelum akhirnya gerimis terjatuh, lembut melarikan kekecewaanya di sini, di permukaan wajah bumi.  Embusan-embusan mesra angin malam berhujan, menyapaku dan membelai lara yang  mengendap ditubuhnya. Lama aku terpaku pada hujan yang semakin liar, dan kucoba untuk kembali mengambil kuas,  melukis aksara hiragana. Mereka seperti menari-menari dengan balutan tinta kehitaman yang mencuat kesana kemari.  Udara menjadi setajam es, menyengat.
Sejenak pikiranku teralihkan kembali oleh gerimis dan hujan yang bergantian datang dan menggelayut di garis langit. Di balik tirai gerimis aku melihatnya seperti sebuah fatamorgana. Sebuah fatamorgana yang lahir dari ilusi malam, malam yang menipuku. Namun kusibak jua sejuta tirai tipis gerimis, mencoba menyerap sosok  yang seperti sebuah ilusi.  Di antara ketidak pastian kulihat ia, bidadari.
Seorang wanita bergerak sesuai irama hujan yang lirih. Jemarinya meraih udara kosong,  pucat bertolak belakang dengan malam pualam. Kimononya merah, menyala-nyala  menjalari dasar perutku dengan api yang membakar. Siapakah dia ? Imajinasiku semakin nyalang , membayangkan ia dengan bibirnya yang merengkuh sunyi bernyanyi nina bobo. Nina bobo yang begitu menyesakkan pendengaranku.
Helai rambut yang hitam pekat, menjadi cermin malam temaram, tergerai dan menyambangi dinginnya desau  angin.  Wajahnya muncul dari dimensi fana, memandangku sayu,  meluruhkan nelangsa.  Gerakan tubuhnya yang beradu menjadi satu kesatuan yang membuatku terpikat. Wajah  itu  lembut bercahaya remang  seperti  rembulan . Mengelabui ku dengan setiap aura menawan terpancar dengan  gemulai melalui  bahasa tubuhnya. Menguak hasratku yang kian lama terpendam  bergejolak  kehausan  dan  bergemerisik kecil menyentuh jiwaku. Namun bayangan pekat menaungi sisi terdalam wajahnya , seolah bidadari itu menyimpan kesedihan.  Yang lama terikat dalam liar gerakan matanya yang redup namun penuh tabir mimpi.
Kereguk dengan kebimbangan seluruh  hasrat yang menari di pelupuk mataku . Menelisik tumpukan bulu angsa putih murni di musim gugur, pada kulitnya yang begitu pucat dan berpendar.  Pipinya lembut merona , namun terasa membara di dalam pandangku yang nanar . Pancaran rasa penasaran namun nelangsa bisa kurasa , saat mata elangnya mengawasiku , juga saat palet didalam keindahannya yang menusuk  berpendar pendar , namun  menjulang dengan gelisah  di sekelilingku .
Gerak  bibirnya kemayu dalam balutan  gincu menggoda , menyimpan suatu rahasia padaku . Kudengar suara genta angin yang berbisik seolah  bibirnya berucap indah, tapi aku salah. Aku mencoba mengejar bayangan semu dihadapku , namun  takdir ternyata  membaca  penolakannya. Bidadari itu pun bergeming terhadapku . Sentuhan  jemari  gemulainya  membuatku ingin  melebur pada sang waktu. Ia bergerak menjauh ,  ujung kimononya yang cantik  ikut hilang bersamaan  dengan  hilangnya bayangan sang bidadari diatas relung relung ku . Lama bayangannya di sana di dalam hatiku yang tersaruk. Sosoknya terus berkelebat, timbul dan tenggelam tanpa kepastian.
gambar: www.google.com


No comments:

Post a Comment