Judul novel : Snow Country
Pengarang: Yasunari Kawabata
Halaman: 180-181 (ada beberapa kata yang diambil dari hal 179 karena merupakan satu paragraf, dan kalau dipisah jadi tidak akan nyambung )
Penggelan novel:
Komako lari sekuatnya. Ia seperti meluncur dengan sandalnya diatas salju beku, dan kedua lengannya rapat ketubuh seperti sulit digerakan. Saat itu terlihat bahwa seluruh kekuatannya seolah hanya terpusat di dada. Rupanya kecil saja sosoknya, Shimamura tak pernah menyangka itu. Karena tubuhnya sendiri cukup gemuk dan ia berlari sambil menjaga Komako. Shimamura cepat terengah-engah. Komako juga cepat kehabisan nafas.
Saturday, April 7, 2012
Tuesday, March 27, 2012
FEATURE - Jelimet oh Jelimet!
Di Negeri jelimet : PERATURAN? DI TEBAS SAJA! = ANARKISME
Jelimet oh jelimet. Negeri
ini terkesan jelimet. Bagaimana tidak? coba kita pertajam penglihatan kita
sekali lagi. Hukum di negeri ini…bagaimana hukum di negeri ini? harganya sangat
murah, OBRAL! Begitu kata para pedagang. Lha wong sekarang penjara saja
dihuninya oleh para tikus berduit yang mampu membungkam hukum dengan uang bukan
oleh kriminal-kriminal seperti yang seharusnya. Lalu bisa diambil kesimpulan :
uang bisa membeli hukum, hukum harganya murah.
Hukum saja yang terkesan sulit dipatahkan bisa sujud sungkem ketika dihadapkan oleh uang. Apalagi yang lainnya?
Monday, March 19, 2012
Rajut Ilusi - #DESKRIPSI2
Di
antara bayang-bayang hakiki, aku tidak mampu semua ini adalah mimpi ataukah
sebuah delusi. Kutembus kabut hampa yang menggenggam petang kelabu. Matahari
tenggelam kebalik keremangan atau hilang termakan kepincangan waktu. Udara
membisu dan terpancang dalam sunyi senyap, menekanku begitu berang. Pohon-pohon
cemara kerdil seperti terbawa keheningan yang memekakan, menari dan bergerak
begitu cepat hingga akhirnya luruh ke tanah menyisakan cairan pekat kehitaman.
Mereka kembali tegak dalam sekejap, kali ini menjulang. Di sanalah, dari balik
cemara yang meranggas kutemukan pandang matamu yang jernih, seperti dian yang
menyala. Aku mencoba menggapaimu, wajah yang terbakar pilu. Aku terjebak menuju
ketajaman rasa pedihmu yang membayang. Kupijak tanah yang goyah juga rentan,
menghambat pergerakanku, daun-daun gugur terhampar bergemerisik.
Biarkan aku hilang.
Angsa Musim Gugur #deskripsi1
Bulan sabit nyalang, mengambang dalam pusaran malam yang
padam dan berjelaga. Tergambar dengan jelas langit yang terbentang, sepi dan
menyendiri dari gemintang. Kupandangi lekat bulan seperti mata pisau yang membelah nestapa
dari keremangan malam. Suara petir di kejauhan yang bergemuruh menggantikan
suara jangkrik ataupun suara-suara nokturnal lain. Semua unsur malam tertelan
ketiadaan begitu saja malam ini, taburan gemintang ataupun suara malam yang
akrab pergi. Aroma lembab tercium
sebelum akhirnya gerimis terjatuh, lembut melarikan kekecewaanya di sini, di
permukaan wajah bumi. Embusan-embusan
mesra angin malam berhujan, menyapaku dan membelai lara yang mengendap ditubuhnya. Lama aku terpaku pada
hujan yang semakin liar, dan kucoba untuk kembali mengambil kuas, melukis aksara hiragana. Mereka seperti menari-menari dengan balutan tinta
kehitaman yang mencuat kesana kemari.
Udara menjadi setajam es, menyengat.
Sunday, March 4, 2012
Menghadapi Sebuah Fenomena yang Miris
Sebuah realitas memang sulit diterima. Apabila realitas
ini menjadi sebuah kepahitan yang menimbulkan pergulatan, baik batin maupun
fisik. Realitas berubah menjadi sebuah masalah. Yang mampu membuat sebuah
negara maupun rakyatnya kelimpungan karena lelah berenang dalam keringatnya
sendiri. Dalam menghadapi transformasi realitas ini. Realitas kebobrokan
tingkat pendidikan yang berkualitas. Salah satunya yang menjadi sorot
perhatian. Menjadi titik tumpu kekhawatiran para warga yang masih peka, yang
masih peduli, dan tentunya sangat menyadari. Ada sesuatu hal yang tidak
signifikan di negerinya sendiri. Sesuatu yang sangat salah.
Subscribe to:
Comments (Atom)
